Friday, September 17, 2010

WOW service from manager of Cheese Cake Factory, Tomang



Begitu melihat balon udara Cheese Cake Factory berkibar di depan sebuah gedung berlapis kaca, saya dan pasangan saya langsung berniat untuk ke sana dan mencoba cheese cake-nya yang terkenal lezat itu.
Setelah hampir sebulan buka, baru malam ini, Minggu, 29 November 2009 saya dan pasangan berkesempatan pergi ke sana. Yah, mumpung masih diskon 20%, hihi. Ambience restoran ini memang terkesan elegan dan mewah. Harganya juga cukup premium. Namun hal itu tak menyurutkan keinginan kami untuk mencicipi makanan di sana. Setelah menunggu sekitar 3 menit, seorang pelayan membawa kami ke lantai 2, tepatnya di teras. Suasananya cukup enak, apalagi Jakarta yang baru dibilas air hujan memberikan udara segar untuk kami yang duduk di tempat yang semi outdoor.


Kami menunggu dengan sedikit was-was, karena tidak ada satu pun pelayan yang menghampiri kami untuk memberikan menu. Apa jangan-jangan harus order dulu di bawah? Tapi ada pasangan yang baru masuk setelah kami langsung mendapatkan menu. Begitu pula dengan beberapa orang yang masuk kemudian, langsung disodorkan menu oleh pelayan. Sekedar catatan, mereka duduk di dalam. Kami mencoba menarik perhatian pelayan, dan setelah sekitar 10 menit, seorang pelayan datang, meminta maaf dan memberikan menu. Setelah meneliti menu, kami segera memutuskan pilihan pesanan. Sekali lagi, pelayan begitu sulit dipanggil, sepertinya mereka menghilang raib entah ke mana, padahal kondisinya tidak terlalu ramai. Bahkan sampai dua kali kami berhasil memberi tanda pada pelayan, tetap kami dibiarkan begitu saja. Malah pelayan kedua yang kami panggil mengangkat tangan dan memberi tanda “tunggu.”
Alamak, kami mulai ilfil. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja. Di Diner Dash aja bisa gitu, ya gak, hehe. Waktu turun ke lantai 1, terlintas di pikiran saya untuk mengadu sebentar ke manajernya. Saya menghampiri seorang pria kurus tinggi berbaju hitam-hitam dan bertanya, “Mas, bisa ketemu manajernya gak?” Pria itu langsung menjawab dengan ekspresi concerned, “Saya manajernya. Ada apa?” Wah! Pucuk dicinta ulam pun tiba nih. Saya pun menumpahkan uneg-uneg saya tanpa ada niat dan pikiran untuk stay di sana lebih lama. Saya pikir, cukup keluarin keluh kesah saya, lalu tinggalkan tempat ini. Namun sang manajer, yang kemudian saya ketahui namanya Adrian, dengan tulus mengekspresikan penyesalannya dan menawarkan remedy, dia sendiri yang akan melayani kami. Terkesima dan tak menyangka, akhirnya kami menerima tawarannya.
Kami memesan assorted cheese cake dan es krim. Pak Adrian menepati janjinya, beliau sendiri yang melayani kami dengan sangat baik. Tidak ada kata ‘lama’ sama sekali. Nah, sambil makan, saya sempat berpikir, kira-kira bakal dapet diskon tambahan gak ya? Hihi. Lalu saya juga terpikir, apa saya perlu kasih tip ya, tapi buat manajer bok, mau kasih berapa? Hehe.
Lalu tibalah waktu membayar. Setelah meminta bill pada pelayan, tahu-tahu Pak Adrian muncul lagi. Waktu kami bilang kami sudah minta bill, dengan ramah dia menjawab, “Tidak ada bill.” Saya dan pasangan bengong. Tidak ada bill karena komputer hang gara-gara tadi sempat mati lampu sebentar? Saya bertanya lagi, “Maksudnya gak ada bill?” Pak Adrian tersenyum, “Ya, gak ada bill. Dari saya, sebagai permintaan maaf. Harusnya pelayanannya tidak boleh lambat, harus langsung dilayani.” Wow! What a surprise! Lalu dia menambahkan sebuah kalimat yang sangat berkesan buat saya, “Kalau saya jadi pelanggan juga pasti kesal kalo mendapat pelayanan seperti itu.”
Speechless deh kita. Cuma bisa mengucapkan terima kasih dan memberi jabatan tangan hangat. Terima kasih Pak Adrian, Anda bersedia menempatkan diri di posisi pelanggan, you’ve stepped into our shoes, dan itu value yang sudah jarang dimiliki banyak penyedia jasa sekarang.
Jadi kalo ada yang mampir ke CC Factory Tomang, coba cari Pak Adrian dan sampaikan salam hangat saya padanya 
Oya, yang masih jadi misteri, kenapa kami mendapat pelayanan yang begitu lama di lantai 2? Apa karena posisi kami yang di luar hingga seakan terlupakan (asumsi saya), atau karena kami hanya mengenakan kaos dan jins (asumsi pasangan)?


NB:
this is a very late post. I posted this to Suara Pembaca Kompas and to CCF CS. They answered very politely and sympathetically. They were very sorry for the bad service we had, and they also stated that our clothes didn't and shouldn't have anything to do with their service. 

No comments:

Post a Comment